Senin, 18 Juni 2012

Studi Pustaka: Persalinan Normal


1Persalinan berarti kelahiran bayi. Pada akhir kehamilan, uterus secara progresif lebih peka sampai akhirnya timbul kontraksi kuat secara ritmis sehingga bayi dilahirkan. Penyebab peningkatan aktivitas uterus yang sebenarnya tidak diketahui, tetapi sedikitnya ada dua kategori pengaruh utama yang menyebabkan timbulnya puncak kontraksi yang berperan dalam persalinan: (1) perubahan hormonal progresif yang menyebabkan peningkatan eksitabilitas otot-otot uterus, dan (2) perubahan mekanik yang progresif.

1Faktor-Faktor Hormonal yang Menyebabkan Peningkatan Kontraksi Uterus
RASIO ESTROGEN TERHADAP PROGESTERON. Progesteron menghambat kontraksi uterus selama kehamilan, sehingga membantu mencegah ekspulsi fetus. Sebaliknya, estrogen mempunyai kecenderungan nyata untuk meningkatkan derajat kontraktilitas uterus yang terjadi karena estrogen meningkatkan jumlah gap junction antara sel-sel otot polos uterus yang berdekatan, namun juga karena pengaruh lain yang masih belum dimengerti. Baik progesterone dan estrogen disekresikan dalam jumlahh yang secara progresif makin bertambah selama kehamilan, tetapi mulai kehamilan bulan ke tujuh dan seterusnya sekresi estrogen terus meningkat sedangkan sekresi progesteron tetap konstan atau mungkin sedikit menurun. Oleh karena itu,, diduga bahwa rasio estrogen-terhadap-progesteron cukup meningkat menjelang akhir kehamilan, sehingga paling tidak berperan sebagian dalam peningkatan kontraksi uterus.
PENGARUH OKSITOSIN PADA UTERUS. Oksitosin merupakan suatu hormone yang disekresikan oleh neurohipofisis yang secara khusus menyebabkan kontraksi uterus. Ada empat alasan untuk mempercayai bahwa oksitosin mungkin diperlukan dalam meningkatkan kontraktilitas uterus menjelang persalinan: (1) Otot uterus meningkatkan jumlah reseptor-reseptor oksitosin dan, olah karena itu, meningkatkan responnya terhadap dosis oksitosin yang diberikan selama beberapa bulan terakhir kehamilan. (2) Kecepatan sekresi oksitosin oleh neurohipofisis sangat meningkat pada saat persalinan. (3) Walaupun pada hewan yang telah menjalani hipofisektomi masih dapat melahirkan bayinya pada kehamilan aterm, persalinannya akan berlangsung lama. (4) Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa iritasi atau regangan pada serviks uteri, seperti yang terjadi selama persalinan, dapat menyebabkan sebuah reflex neurogenik melalui nucleus pareventrikular dan supraoptik hipotalamus yang dapat menyebabkan kelenjar hipofisis posterior meningkatkan sekresi oksitosinnya.
PENGARUH HORMON FETUS PADA UTERUS. Kelenjar hipofisis fetus menyekresikan oksitosin, yang mungkin berperan dalam merangsang uterus. Kelenjar adrenal fetus juga menyekresikan sejumlah besar kortisol , mungkin merupakan suatu stimulant uterus lain. Selain itu, membrane fetus melepaskan prostaglandin dalam konsentrasi tinggi pada saat persalinan. Prostaglandidn ini juga dapat meningkatkan intensitas kontraksi uterus.

Faktor-Faktor Mekanis yang Meningkatkan Kontraktilitas Uterus
REGANGAN OTOT-OTOT UTERUS. Regangan sederhana organ-organ berotot polos biasanya akan meningkatkan kontraktilitas otot-otot tersebut. Selanjutnya, regangan intermiten seperti yang terjadi berulang-ulang pada uterus karena pergerakan fetus juga dapat meningkatkan kontraksi otot polos. Perhatikan khususnya pada bayi kembar yang rata-rata lahir 19 hari lebih awal daripada anak tunggal yang menekankan pentingnya regangan mekanik dalam menimbulkan kontraksi uterus.
REGANGAN ATAU IRITASI SERVIKS. Terdapat alasan untuk mempercayai bahwa meregangkan atau mengiritasi servik uteri khususnya penting dalam menimbulkan kontraksi uterus. Sebagai contoh, ahli obstetric sering menginduksi persalinan dengan memecahkan ketuban sehingga kepala bayi lebih meregang serviks daripada biasanya atau mengiritasi serviks degnan cara lain. Mekanisme bagaimana iritasi serviks dapat merangsang korpus uteri tidak diketahui. Diduga bahwa regangan atau iritasi saraf pada serviks mengawali timbulnya reflex pada korpus uteri, tetapi efek ini juga secara sederhana dapat terjadi akibat transmisi miogenik sinyal-sinyal dari serviks ke korpus uteri.

2Persalinan adalah proses fisiologis dimana produk hasil konsepsi (antara lain, fetus, plasenta, membrane, tali pusat) dikeluarkan dari uterus. Persalinan terjadi oleh karena perubahan jaringan biologis secara biokimia dan dilatasi dan pemendekan perlahan pada serviks uteri sebab kontraksi ritmis uteri yang cukup dalam hal frekuensi, intensitas dan durasi.  Persalinan adalah diagnosis klinis. Onset dari persalinan artikan munculnya kontraksi uterus yang menyakitkan dan teratur, yang menyebabkan penipisan atau pemendekan dan dilatasi servik yang progresif. Dilatasi serviks saat tidak adanya kontraksi uterus memberikan tanda insufisiensi servik, dimana kontraksi uterus tanpa perubahan serviks tidak memenuhi persyaratan persalinan.

2Kala persalinan (Stages of Labor)
Umumnya ahli kandungan membaginya menjadi 3, yaitu:
(1)    Kala satu: kala satu dimulai dengan munculnya kontraksi teratur pada uterus, dan berakhir pada dilatasi serviks yang mencapai 10cm. Pada studi Friedman’s landmark, pada 500 nulipara, dia membagi kala satu menjadi fase laten awal dan fase aktiv. Fase laten dimulai dengan kontraksi uterus yang halus, tidak teratur dan menyebabkan serviks lebih halus dan lebih pendek. Kontraksi menjadi lebih ritmis dan kuat secara progresif. Kemudian diikuti fase aktif persalinan yang umumnya dimulai saat dilatasi serviks mencapai 3-4cm dan ditandai dengan dilatasi serviks yang cepoat dan penurunan dari persentasi tubuh fetus. Kala satu dari persalinan diakhiri pada dilatasi penuh serviks, kira-kira 10cm, menurut Friedman, fase aktif lebih jauh lagi dibagi menjadi fase akselerasi, fase slope maksimum dan fase deselerasi.Karateristik dari kurva dilatasi serviks rata-rata dikenal juga dengan Friedman labor curve, dan pada beberapa defines dari protraksi dan kelahiran kemudian ditetapkan. Namun demikian, data dari populasi obstetric modern menunjukkan bahwa laju dilatasi servikal lebih lamban dan progresifitas kelahirannya berbeda secara signifikan dari kurva persalinan Friedman.
(2)    Kala dua : Kala dua persalinan dimulai dari dilatasi penuh serviks dan berakhir pada kelahiran fetus. The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menyarankan bahwa kala dua persalinan seharusnya dikatakan mengalami perpanjangan, jika kala dua melebihi 3 jam bila anastesi regional diberikan, atau 2 jam tanpa anastesi regional untuk nulipara. Pada wanita yang multipara, diagnosis ini berlaku jika persalinan melebihi 2 jam dengan anastesi regional, atau 1 jam tanpa anastesi regional. Penelitian mempelajari hasil perinatal dengan kala dua persalinan yang mengalami perpanjangan (prolonged) meningkatkan resiko persalinan operatif dan morbiditas maternal namun tidak ada perubahan pada neonates. Faktor resiko maternal berhubungan dengan kala dua yang mengalami perpanjangan termasuk nulipara, peningkatan berat maternal dan/atau kenaikan berat, penggunaan anastesi regional, persalinan yang diinduksi, posisi occipital fetal pada posterior atau transversal, dan semakin beratny kandungan.
(3)    Kala tiga: ditandai dengan periode waktu antara kelahiran fetus dan kelahiran placenta dan membrane fetal. Selama periode ini, kontraksi uterus mengurangi aliran darah basal, yang menyebabkan penebalan dan reduksi dari permukaan area myometrium yang sebelumnya dilapisi plasenta. Walaupun kelahiran plasenta umumnya membutuhkan kurang dari 10 menit, durasi dari kala tiga ini dapat mendapai 30 menit. Managemen (tata laksana) yang diharapkan adalah adanya kelahiran plasenta yang spontan. Managemen aktif meliputi administrasi profilaksis seperti oksitosin atau uterotonik lainnya, pemotongan tali pusat, dan mengontrol traksi tali pusat. Andersson et al menemukan bahwa clamping tali pusat yang tertunda meningkatkan status gizi zat besi dan mengurangi prevalensi dari defisiensi zat besi pada usia 4 bulan dan menurunkan juga prevalensi dari anemia neonatal, tanpa efek samping yang berarti.Penelitian menunjukkan bahwa jika dibandingkan, antara managemen aktif dengan kelahiran spontan plasenta, managemen aktif lebih beresiko menimbulkan komplikasi atau efek samping managemen. 

Referensi
1.       GUYTON
2.       emedicine.medscape.com/article/260036-overview

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar